Minggu, 14 Oktober 2012

Suku Sunda



Suku Sunda merupakan suku yang tinggal di Pulau Jawa bagian Barat. Populasi Suku Sunda memiliki jumlah terbesar di Indonesia setelah suku Jawa. Mayoritas Suku SUnda beragama Islam, sisanya ada yang bergama Kristen, Hindu dan Sunda wiwitan. Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan asli orang sunda yang percaya adanya kekuatan pada arwah leluhur (animisme dan dinamisme).

Bahasa dan budaya orang Sunda merupakan jati diri yang mempersatukan mereka. Sifat optimis, sopan, ramah dan riang merupakan sifat yang terkenal dari orang sunda. Dalam Suma oriental, orang Portugis menulis bahwa orang sunda bersifat pemberani dan jujur. Sifat periang dan suka bercanda pada orang Sunda ini digambarkan pada tokoh Kabayan dan Cepot pada wayang golek.

Bahasa yang dipakai orang Sunda adalah bahasa Sunda. Akan tetapi di daerah perkotaan, seperti Bandung dan Bogor, banyak maysarakat Sunda yang sudah tidak memakai bahasa Sunda, mereka lebih banyak memakai bahasa Indonesia. Bahasa Sunda ini memiliki beberapa kesamaan kosa kata dengan bahasa Jawa.

Profesi terbanyak pada orang Sunda adalah sebagai petani dan berladang. Hal ini disebabkan kondisi tanah Sunda sangat subur. Selain itu banyak juga masyarakat Sunda yang menjadi pedagang atau pengusaha. Meskipun banyak yang jadi pengusaha, mayoritas dari mereka memiliki usaha kecil-kecilan, seperti warung, pedagang keliling, usaha cukur rambut, toko kelontong dan lain-lain. Walaupun begitu ada juga yang memiliki usaha besar seperti cafe, distro, percetakan dan jual beli kendaraan. Pedagang keliling merupakan profesi yang banyak ditekuni oleh orang Garut dan Tasikmalaya. Selain itu orang Sunda ada yang menjadi penyanyi, seniman, pegawai negero , dokter dan diplomat.

Ada hal yang unik pada orang Sunda ini. Mereka tidak mau disebut sebagai orang Jawa walaupun tinggalnya di Pulau Jawa. Akan tetapi orang Sumatera, Bali, Kalimantan dan berbagai tempat lain di Indonesia mereka tatap saja menyebut orang Jawa karena tinggalnya di Pulau Jawa. Sifatnya yang ingin dibedakan dengan orang Jawa ini mungkin dilatarbelakangi oleh adanya acara pernikahan Hayam Wuruk (dari Majapahit) dengan Putri dyah Pitaloka (dari Pajajaran) yang berubah menjadi perang Bubat. Hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman Gajah Mada. Karena itu sampai sekarang di propinsi Jawa Barat tidak ada nama jalan Hayam Wuruk ataupun Gajah Mada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar